Wahyu Pertama


بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم


            Setiap manusia di dunia ini dilahirkan dalam keadaan lemah tak berdaya, tanpa membawa sesuatu apapun, hal pertama yang mampu mereka lakukan hanyalah menangis. Allah berfirman dalam surat An-Nahl ayat 78.

وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالأبْصَارَ وَالأفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُون
Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.

Dari ayat di atas, meskipun Allah telah menjelaskan bahwa kita sebagai manusia dilahirkan dalam keadaan yang lemah namun kita masih harus bersyukur. Kita harus bersyukur karena Allah membingkai kelemahan kita tersebut dengan karunia penglihatan, pendengaran dan juga hati, lalu bagaimana cara kita bersyukur atas segala karunia tersebut?

            Allah menciptakan manusia sebagai khalifah di muka bumi, manusia diberi amanah untuk menjaga bumi Allah yang maha luas ini. Untuk mampu menjalankan amanah kita sebagai khalifah, kita sebagai manusia yang lemah harus mempunyai usaha yang maksimal untuk menggunakan akal kita untuk berfikir, dengan menggunakan akal kita untuk berfikir kita akan mampu memahami tugas-tugas yang Allah amanahkan kepada kita. Hal ini juga termasuk salah satu cara kita mensyukuri nikmat dan anugrah yang telah Allah berikan kepada kita.

Di dalam tafsir Jalalain dijelaskan bahwa yang dimaksud amanah yang diembankan kepada manusia adalah berupa agama, itu artinya Allah memberi amanah kepada manusia untuk menjaga dan menegakkan agamaNya. Kita tidak akan mampu menjaga dan menegakkan agama Allah tanpa mengetahui ilmu-ilmuNya dan hal itu tidak akan tercapai tanpa usaha membaca dan memahami. Ilmu-ilmu yang Allah miliki begitu banyak, dan manusia hanya diberi sedikit dari ilmu Allah tersebut, namun kita harus berusaha untuk memahami yang sedikit tersebut dengan maksimal. Dalam Q.S Al-Isra’ ayat 85 Allah berfirman :

 وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلا قَلِيلا
Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: "Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit".

Ilmu-ilmu Allah yang begitu banyak tersebut tidak akan mampu kita kuasai tanpa membaca. Wahyu yang pertama kali Allah turunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantara Jibril adalah perintah untuk membaca, yaitu surat al-Alaq ayat 1-5.

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (1) خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (2) اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ (3) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4) عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (5)
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”

Allah menjadikan membaca sebagai perintah pertama kepada Nabi Muhammad S.A.W karena membaca merupakan suatu hal yang sangat penting dan Allah memberi perhatian lebih terhadap kegiatan membaca tersebut. Membaca adalah pintu utama untuk menguasai ilmu-ilmu Allah yang bertebaran di bumi ini, dengan membaca wawasan kita akan keagungan, kekuasaan, dan ilmu-ilmu Allah akan semakin luas, sehingga kita akan semakin mengenal sang pencipta yang begitu hebat itu. Jika kita sudah mengenaliNya maka kita akan semakin mudah untuk jatuh cinta kepada Allah. Seseorang yang telah mencintai akan selalu berusaha untuk memberikan yang terbaik dan melakukan apapun untuk yang dicintainya, begitu juga dengan perintah dan larangan yang Allah telah atur.

            MencintaiNya berarti melakukan apapun untuk mendapat ridhaNya, begitu juga dengan kegiatan belajar mengajar yang kita lakukan selama ini. Sudah seharusnya kita menjadikan Allah sebagai tujuan kita dalam mencari ilmu, bukan untuk menjadikan ijazah sebagai tujuan utama, dengan menjadikan Allah sebagai tujuan utama kita, kita akan memiliki kesadaran untuk memanfaatkan ilmu yang sudah kita dapat untuk kebaikan dan kemaslahatan orang lain.

            Saat ini banyak kita temukan para sarjana dengan gelar yang tinggi namun belum mampu memberi banyak manfaat untuk bangsa dan negara. Mereka yang terkadang menimbulkan masalah-masalah baru untuk bangsa ini. Korupsi merajalela, semua ini karena hati mereka kosong dari ketakutannya kepada Allah dan juga kesadaran mereka untuk mengamalkan ilmu yang seharusnya bermanfaat untuk orang lain.

            Kegiatan membaca sudah seharusnya dibiasakan sejak kecil karena sesuatu yang dibiasakan sejak kecil akan membekas hingga ia dewasa nanti. Tradisi membaca akan semakin meningkatkan kuwalitas suatu bangsa, karena kemajuan teknologi suatu bangsa dapat dicapai dengan semangat membaca dan meneliti, namun membaca tanpa diiringi dengan pemahaman yang kuat tentang agama hanya  akan menciptakan kemajuan tekknologi tanpa kebahagiaan dan kepuasan jiwa.

            Ilmu-ilmu yang kita baca dan kita pelajari sudah seharusnya menjadi sarana kita untuk lebih mencintai Allah dan taat kepada Allah. Banyak orang di Barat menjadi muallaf karena kekagumannya pada Allah dan Al-Qur’anNya. Para muallaf tersebut rata-rata adalah ilmuwan dan orang-orang pandai yang mau mengoptimalkan anugrah Allah untuk mengenal dan mencintainya, dengan begitu Islam akan semakin dikenal dan kejayaan Islam pasti akan tercapai. Aaamiin.

            Begitu pentingnya perintah membaca ini hingga Allah mengulangi perintah itu hingga dua kali di dalam satu surat tersebut, maka mari kita mulai berusaha membiasakan diri kita terutama untuk membaca, karena dengan tradisi membaca kita akan semakin mengenal Allah dan perintah-perintahNya kepada kita sebagai seorang khalifah sehingga kita akan mampu melaksanakan amanah Allah dengan sebaik-baiknya. 
wallahu 'alam. 
Oleh: Dzakia Rifqi Amalia

ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِين



Wahyu Pertama Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Unknown