Sejarah Bangsa Arab Pra Islam


بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Negeri Arabia merupakan wilayah padang pasir yang terletak di bagian Barat Daya Asia. Arabia merupakan padang pasir terluas dan tergersang di dunia. Luas wilayahnya 120.000 mil persegi yang berpenduduk rata-rata 5 jiwa setiap mil. Meskipun begitu, Arabia merupakan wilayah strategis dalam peta dunia j Ize kuno, karena letaknya berada pada posisi pertemuan tiga benua, yaitu benua Asia, benua Afrika, dan benua Eropa. Pada bagian Utara, Arabia berbatasan dengan lembah gunung Syiria. Sebelah Timur berbatasan dengan dataran tinggi Persia. Sedangkan bagian Barat berbatasan dengan Laut Merah. Karena di kelilingi laut pada tiga sisinya maka wilayah ini dikenal sebagai jazirah Arabia.

Wilayah Arabia terbagi menjadi beberapa propinsi, seperti propinsi Hijaz, propinsi Najd, propinsi Yaman, propinsi Hadramaut dan propinsi Oman. Semua propinsi tersebut menempati posisi yang sangat penting dalam lintasan sejarah Islam. Mekkah, Madinah, dan Thaif merupakan tiga kota besar di propinsi Hijaz, yang merupakan kota-kota penting dalam perjalanan dakwah Nabi Muhammad saw.

Sebelum agama Islam datang, masyarakat Arabia memiliki beberapa agama dan kepercayaan. Misalnya bangsa Arab Qahthan (kaum Saba) yang bermukim di Yaman menganut agama dan kepercayaan Shabaiah, yaitu suatu kepercayaan yang berkembang di kalangan masyarakat Qahthan tentang adanya kekuatan pada bintang-bintang dan matahari. Setelah hancurnya bendungan Ma’arib, masyarakat Qahthan terpencar ke beberapa tempat di bagian Utara Yaman sehingga lama-kelamaan kepercayaan yang mereka anut mengalami perubahan ketika mereka mulai berinteraksi dengan masyarakat dan kebudayaan lain.

Namun bagi mereka yang masih tetap tinggal di Yaman, kepercayaan Shabaiah tersebut masih tetap dianut dan diyakini sebagai agama yang membawa kebenaran dan keselamatan bagi mereka. Akan tetapi, ketika banyak para rahib agama Yahudi Yatsrib (Madinah) yang datang ke Yaman, masyarakat Yaman secara perlahan mulai meninggalkan kepercayaan lama dan menganut agama baru, yaitu agama Yahudi.

Bagi masyarakat Yaman yang pindah ke Arabia Utara, khususnya yang berada di bawah kekuasaan kerajaan Ghassan, mereka menganut agama Nasrani. Hal itu terjadi karena sebagian besar masyarakat di wilayah tersebut menganut agama Nasrani sehingga mereka mau tidak mau harus menerima dan menjadi pengikut agama mayoritas penduduk di wilayah itu.

Sejarah Bangsa Arab Pra Islam
Illustration from image google
Agama Nasrani ternyata tidak hanya dianut oleh penduduk Arabia Utara di propinsi lain, tetapi juga dianut oleh masyarakat yang berada di propinsi Hijaz. Di antara kota penting di Hijaz yang juga terdapat penganut agama Yahudi dan Nasrani adalah Yatsrib (Madinah) dan Mekkah. Salah satu suku yang bermukim di kota Yatsrib dan menjadi penganut agama Nasrani adalah suku Najran. Masyarakat Najran telah menganut agama Nasrani sejak wilayah itu didatangi oleh para kaum missionaris Nasrani (Kristen) pada tahun 343 M atas perintah dari Kaisar Romawi.

Sementara para penganut agama Yahudi di kota Yatsrib adalah Bani Quraydhah, Bani Ghatahfan, Bani Nadlir, dan Bani Qaynuqa. Selain mereka, terdapat juga para penganut yang berasal dari Suku Aus dan Khajraz yang hidupnya berdekatan dengan kelompok masyarakat Yahudi tersebut.

Adapun bangsa Arab yang bermukim di kota Mekkah sebagian besar di antara mereka adalah penyembah berhala, batu-batuan, dan pepohonan. Mereka tidak mempercayai Tuhan Yang Maha Esa. Mereka tidak percaya adanya hari pembalasan, dan keabadian jiwa manusia.

Sebenarnya, masyarakat kota Mekkah sebelum mereka menyembah berhala, batu-batuan, dan pepohonan adalah penganut agama Tauhid yang dibawa oleh Nabi Ibrahim as. Namun karena adanya keterputusan risalah, akhirnya mereka menyembah selain Allah.

Proses perpindahan kepercayaan ini berawal ketika salah seorang pembesar suku Khuza’ah bernama Amir Ibnu Lubai pergi ke Syam (Syria). Di kota itu ia melihat tata cara peribadatan masyarakatnya yang sangat aneh yang berbeda dengan tata cara peribadatan yang biasa mereka lakukan, yaitu menyembah berhala. Ia mulai tertarik untuk mempelajari dan mempraktikkan tata cara peribadatan tersebut. Untuk keperluan peribadatan tersebut, Amir Ibnu Lubai meminta sebuah berhala dari suku Amaliqah sebagai kenang-kenangan dan akan dijadikan alat perantara dalam peribadatan masyarakat Arab Mekkah guna mendekatkan diri kepada Tuhannya. Berhala itu diberi nama Hubal. Berhala ini kemudian diletakkan di Kabah dan dijadikan sebagai pimpinan berhala-berhala lainnya seperti Latta, Uzza, dan Manat.

Selain berhala-berhala tersebut, mereka juga membuat berhala-berhala lain yang diletakkan di antara bukit Shafa dan Marwa. Tidak kurang dari 360 berhala yang diletakkan di sekeliling Kabah sebagai sesembahan. Dengan demikian, masuklah kepercayaan baru ke dalam tradisi keberagamaan masyarakat Mekkah. Kota Mekkah kemudian menjadi pusat penyembahan berhala.

Apa yang dilakukan masyarakat kota Mekkah ini kemudian ditiru oleh masyarakat Arab lainnya yang datang ke kota Mekkah ketika mereka melaksanakan haji. Para peziarah itu bertanya kepada masyarakat kota Mekkah, khususnya suku Quraisy dan Khuza’ah tentang berhala-berhala tersebut. Untuk apa berhala-berhala tersebut diletakkan di sekeliling Kabah. Penduduk dan pembesar suku Quraisy dan suku Khuza’ah mengatakan bahwa berhala-berhala tersebut akan dijadikan perantara dalam peribadatan mereka yang akan mendekatkan diri kepada Tuhan. Setelah mendapat penjelasan tersebut, akhirnya para peziarah itu mengerti dan meniru apa yang dilakukan oleh masyarakat kota Mekkah. Sejak saat itulah banyak masyarakat Arab yang melakukan penyembahan terhadap berhala dan mereka menciptakan berhala-berhala untuk disembah.

Selain itu, menurut Ibnu Kilabi, salah satu faktor penyebab masyarakat kota Mekkah melakukan penyembahan terhadap berhala adalah karena masyarakat kota Mekkah yang sering ke luar kota untuk berdagang atau keperluan lainnya. Mereka selalu membawa batu-batu kecil yang ada di sekitar Kabah. Kemudian batu-batu itu ditaruh di tempat-tempat persinggahan mereka atau tempat tinggal mereka. Setelah itu mereka melakukan thawaf (berkeliling) layaknya orang melakukan thawaf saat pelaksanaan ibadah haji.

Di samping adanya kepercayaan dan penyembahan berhala yang dilakukan masyarakat Arab kota Mekkah pra Islam, terdapat pula kepercayaan lain yang mereka yakini, seperti:

Menyembah malaikat. Sebagian di antara masyarakat Arab Jahiliyah ada yang menyembah dan menuhankan malaikat, bahkan ada yang beranggapan bahwa malaikat adalah puteri Tuhan.

Menyembah jin, ruh atau hantu. Sebagian ada lagi yang menyembah jin, hantu, dan ruh leluhur mereka. Bahkan ada suatu tempat yang mereka keramatkan yang mereka sebut dengan Darahim. Mereka selalu mengadakan sesajian berupa kurban binatang sebagai bahan sajian agar mereka terhindar dari mara bahaya dan bencana.

Pada saat menjelang kelahiran agama Islam, muncul sekelompok orang yang dari kalangan masyarakat Arab yang berusaha untuk melepaskan diri dari kepercayaan dan penyembahan berhala, dan menyebarkan ajaran tauhid yang dibawa oleh Nabi Ibrahim as. Di antara mereka adalah Waraqah Ibnu Naufal, Umayah Ibnu Shalt, Qus Saidah, Usman Ibnu Khuwairis, Abdullah Ibnu Jahsyi, dan Zainal Ibnu Umar. Mereka inilah yang bisa disebut sebagai kelompok orang yang menentang tradisi kepercayaan dan praktik peribadatan yang banyak dilakukan masyarakat Arab di kota Mekkah. Namun sayang, sebelum agama Islam berhasil disiarkan di kota tersebut dan kota-kota lainnya, mereka telah tiada.

Hal yang bisa kita pelajari dari kenyataan di atas adalah bahwa agama dan kepercayaan diyakini oleh suatu masyarakat dan tidak didasari atas hidayah dan risalah Allah, pasti akan punah. Karena mereka tidak akan mendapaat ridho-Nya. Oleh karena itu, kehendak Allah mengutus seorang hamba-Nya menjadi nabi dan rasul memperbaiki sistem kepercayaan dan tradisi yang buruk tidak ada yang bisa menghalanginya. Di sinilah keyakinan semakin kuat bahwa Allah adalah Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya.

ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِين

Sejarah Bangsa Arab Pra Islam Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Jejak Puisi

3 comments:

  1. Jalan-jalan cari Ilmu-ilmu Islami disini... Salam ^^

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh penulis.

    BalasHapus
  3. terimakasih telah memmbantu menambaqh wawasan :)

    BalasHapus